Menjadi Muslim Berilmu sebelum Berkata dan Beramal
 
 
TOP >> Riyadhus Sholihin >> Bab Taqwa


Bab Taqwa

Hadits Pertama: 

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ¡Æanhu: bahwasanya Nabi shallallaahu ¡Æalaihi wa sallama pernah berdoa: ¡ÈAllaahumma innii asalukal-hudaa wat-tuqaa wal-¡Æafaafa wal-ghinaa (Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu hidayah, ketakwaan, keperwiraan, dan kekayaan/kecukupan)¡É.

Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim.

Keterangan:

Hidayah adalah petunjuk, sedangkan ketakwaan (pada Allah) berarti menjadikan antara diri pemilik sifat takwa dan antara yang ditakutkannya, yaitu siksaan Allah, sebagai pelindung yang menjaga dirinya dari siksaan Allah tersebut, dengan cara melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Keperwiraan adalah penjagaan (kehormatan) diri dari apa saja yang tidak halal, misalnya suka meminta-minta kepada orang lain, sedangkan kekayaan/kecukupan yang dimaksud di sini adalah kekayaan/kecukupan jiwa, yaitu merasa cukup dengan apa yang ada pada diri sendiri sehingga tidak merasa butuh/tertarik/rakus terhadap apa yang ada pada orang lain.

Secara khusus tentang ketakwaan, dari hadits ini terlihat bahwa kita diwajibkan untuk bertakwqa pada Allah baik dalam perkataan maupun perbuatan. Ketakwaan menjadi sebab keselamatan dan akan mendatangkan rizki yang halal. Barang siapa yang memiliki sifat takwa, Allah akan menjadikan cahaya di hati dan akalnya sehingga ia bisa melihat kebenaran untuk diikutinya dan bisa melihat kebatilan untuk dijauhinya, di samping ketakwaan itu juga akan mendatangkan ampunan dari Allah.

Secara umum tentang hadits ini, dengan doa yang terkandung di dalamnya, kita diajari untuk merendahkan diri dan bersandar pada Allah dalam semua keadaan. Selain itu, tampak juga dari doa tersebut keutamaan sifat-sifat yang diminta oleh Nabi di sini sehingga merupakan suatu kebaikan jika doa dalam hadits ini dapat kita hafalkan dan kita amalkan .

 

Hadits Kedua:

 

Dari Abu Tharif, yaitu ¡ÆAdiyy bin Hatim Ath-Tha¡Çiyy, radliyallaahu ¡Æanhu, beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ¡Æalaihi wa sallama berkata: Barangsiapa bersumpah atas suatu perkara kemudian ia melihat yang lebih dekat kepada ketakwaan pada Allah, maka datangilah ketakwaan itu¡É.

Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim.

 

Keterangan:

 

Hadits ini mengajarkan kita untuk menetapi ketakwaan, termasuk dalam bersumpah. Jika seseorang telah terlanjur bersumpah, terutama sumpah untuk melakukan maksiat atau untuk tidak melakukan kebenaran, kemudian ia melihat perkara yang lebih diridlai oleh Allah atau lebih menjauhkan dari maksiat, maka ia harus meninggalkan sumpahnya tersebut untuk melakukan perkara yang lebih baik ini.

Hadits di atas dapat diperluas pengertiannya, yaitu tidak hanya mengenai sumpah, tetapi juga niat secara umum. Namun pembatalan sumpah menuntut pembayaran kaffarah, yaitu memberi makan kepada sepuluh orang miskin atau pakaian kepada mereka, atau membebaskan seorang budak. Jika hal-hal ini tidak bisa dilakukan, maka kaffarahnya adalah shaum tiga hari.

 

Disadur dari Bab Takwa pada kitab Nuzhatul-Muttaqin

Selesai pada hari Kamis, 8 Dzul-qa¡Çdah 1424/1 Januari 2004

Abu Asiyah

Dicopy dari buletin Muslim oleh Abu Adzka


Dikirim
Tanggal : 14-05-2007 12:05
Kategory : Riyadhus Sholihin
Track Back : http://manage.catatanku.com/tb.cgi/101_273_2007_05

Komentar

Isi Komentar

Judul
Nama Anda
Website



Masukkan kode verifikasi